Dear Stalker,
Sudah dapat informasi apa aja hari ini dari akun twitter dia?
Apa? Sedih karena dia ngga ngetwit apapun soal kamu?
Kamu sih...udah tau dia ngga ada perasaan apa-apa sama kamu,kok ngeyel?
Makin sedih ya karena ternyata dia lagi deket sama yang lain?
Udah,relain aja . Percaya aja kalau jodoh tak lari kemana
Apa? Ngga bisa lupain dia? Coba dulu cek tetangga kamu,siapa tau lebih cakep
Yakin ngga bisa jatuh cinta sama yang lain? Drama ih!
Ya udah , apapun keputusan kamu,mau lupain dia atau keep stalking
Mudah-mudahan kamu tau apa yang terbaik buat kamu ya
Jangan keasyikan stalking sampe ngga sadar ada yang sayang kamu didunia nyata
Iya,ada yang sayang sama kamu didunia nyata , Aku
Aku sayang kamu
Sabtu, 08 Maret 2014
Sepasang Malaikatku
Untukmu, Ayah dan Ibu.
Rasa-rasanya bukan suatu hal yg berlebihan jika surat
untukmu ini kuberi judul demikian. Ayah, Ibu, kalian malaikatku. Malaikat yg
beberapa saat sebelum aku menulis surat ini kulihat telah terlelap di kamar.
Kalian pasti lelah setelah seharian memperjuangkan kebahagiaan kami,
anak-anakmu, untuk hari ini dan masa yg akan datang.
Tidurlah Ayah, tidurlah Ibu. Semoga lelahmu lekas menguap
bersama malam, lalu mengembun di dedaunan esok hari.
Kira-kira, apa kata yg pantas kusematkan kepadamu yg telah
menjadi perantara hadirnya aku di dunia ini sekaligus pembimbing hidupku, jika
bukan malaikat?
Siapa lagi yg bisa menerbangkanku ke depan gerbang pintu
surga dan membukakannya untukku, jika bukan malaikat sepertimu?
Bahkan aku yakin, malaikat pun pasti akan merasa tak pantas
menyandang nama malaikat jika tau aku menyebut orang-orang hebat sepertimu
sebagai malaikatku.
Ayah. Ibu.
Ini anakmu, yg sedang ingin menantikan cintanya kepadamu.
Ya, aku tau kalian pasti tak akan mengetahui apa yg
kulakukan ini. Biarlah. Aku hanya ingin menceritakan kebanggaanku atas kalian
kepada para penghuni dunia maya yg teramat luas ini, yg bahkan belum kuketahui
batasnya. Biar mereka tau, bahwa aku punya Ayah dan Ibu sehebat kalian.
Ayahku sayang.
Yg berkumis tapi selalu tersungging senyum ramah. Yg
rambutnya mulai ditumbuhi banyak uban. Yg garis-garis keriput di wajahnya mulai
nampak. Yg galak tapi juga humoris.
Kau ikhlas melelahkan ragamu yg mulai merenta, pun
melelehkan keringat di sekujur tubuhmu. Semua itu kau lakukan hanya demi
menebus senyum bahagia kedua anakmu.
Kau didik kami dengan keras namun penuh kasih sayang. Ucapan
terima kasih berkali-kali pun tak akan cukup untuk membalas semua itu. Sungguh,
aku mengidolakanmu.
Ayah, suaramu pertegas pejuanganku. Begitu kata Lyla dalam
lagunya. Dan aku termasuk salah satu orang yg mengamininya. Kau tak pernah
lelah memberiku asupan nasehat dan semangat dengan suara berat yg khas darimu.
Mengobarkan semangat, mengaburkan ragu dan jenuhku. Terlebih setiap kali kau
mengantarku yg hendak menuntut ilmu di perantauan. Tatapan matamu selalu
meneguhkanku, meski aku tau sebenarnya kau juga berat melepasku.
Sungguh, ingin sekali aku menjadi sepertimu.
Ibuku tercinta.
Yg telah mengajarkanku memakai baju, memasang tali sepatu,
menyisir rambut, dan segala hal yg sebelumnya aku tak bisa. Yg selalu bangun
pagi menyiapkan sarapan untukku. Yg setia merawatku saat sehat maupun sakit. Yg
dengan bangga bercerita tentang prestasi dan kenakalanku kepada teman dan
tetangga. Yg matanya selalu berkaca-kaca setiap melepasku di sekolah,
mencemaskanku, dan menungguku pulang dalam bait-bait doa.
Aku sayang Ibu.
Jauh di relung kalbuku sebenarnya aku menyimpan kerinduan yg
mendalam akan lakumu memanjakanku. Suapanmu, ciumanmu, belaianmu, timanganmu,
pelukanmu. Aku rindu menjadi kanak-kanak. Rela aku menanggalkan remajaku
sejenak.
Hanya saja aku malu. Sebab seiring bertambahnya usia kita,
diam-diam sang waktu telah lancang mengikis kedekatan kita. Tapi aku yakin,
keakraban itu bukan sirna, hanya tak kasat mata.
Ayah. Ibu.
Anakmu yg telah 18 tahun kau ajarkan makna kehidupan ini
ingin sekali meminta maaf. Maaf jika sampai saat ini aku masih belum mampu
menjadi anak seperti yg kalian harap. Maaf jika sampai saat ini aku masih belum
mampu membahagiakanmu dan membuatmu bangga, sebangga aku memiliki malaikat
seperti kalian.
Terakhir. Hanya sebait doa untuk kalian malaikatku, yg lirih
kulafalkan sembari menuliskan surat ini dan setiap harinya kuulang
berkali-kali.
Ayah. Ibu. Terima kasih. Beri aku kepercayaan, akan
kuperjuangkan bahagiamu, akan kupertanggungjawabkan kebangganmu padaku.
Tau Kenapa Kamu Istimewa?
Karena aku selalu bisa merindukanmu dengan banyak cara SEDERHANA.
Karena aku tak perlu susah mengartikan rindu itu dari A sampai Z. Rindu itu kamu.
Karena aku suka berlama-lama saat mendengar ceritamu, sama seperti saat aku sedang membaca buku.
Karena rinduku buatmu ternyata tanpa batas waktu.
Karena merindukanmu adalah rahasia hati yang paling sederhana dan itulah rahasia hatiku.
Karena merindumu tak pernah jemu dilakukan benak.
Karena aku selalu memikirkanmu setiap kali bangun di pagi hari. Memikirkanmu itu artinya aku merindukanmu.
Aku selalu menyiapkan banyak cara untuk menyapamu, termasuk menyebutkan namamu dengan lengkap. Dan itu artinya rindu.
Lalu apa yang bisa aku lakukan buatmu agar bisa merindukanku?