Jujur, aku sedikit rindu padamu. Rindu pada masa di mana aku merasakan semua sepertinya baik-baik saja. Masa di mana kesenangan dan kesedihan berjalan bersama.
Terima kasih telah menjadi teman yang baik selama ini. Terima kasih telah menyapa penyepi dengan sederet cerita menyenangkan hingga tawa pun berebut didendangkan.
Kapan kita bertemu? Lupa. Iya aku lupa. Namun aku meyakini bahwa aku pernah bertemu denganmu di suatu tempat. Kemudian membawaku untuk kembali mengingat tentangmu dan bertukar banyak cerita denganmu. Atau de javu? Entahlah, aku tak tahu apa-apa tentang itu. Sepanjang aku bisa menjalani dengan sebaik-baik aku memiliki rindu, aku tak punya banyak alasan untuk menggugat segala cerita yang telah terjadi. Dan, psssstttt…
Kamu tahu? Aku suka sekali mendengar tawa, melihat manisnya senyum dan menikmati lesung pipi bersemu merah yang kemudian merona. Ya, segala yang aku tak pernah mendapatinya dalam sunyi. Segala yang selalu membuatku ingin berlari, mencari-cari dan terbang entah menuju negeri mana untuk mendapatkannya. Untuk apa? Untuk kemudian aku kenalkan kepada mereka para penyepi bahwa di luar sana, ribuan tawa akan menyambut mereka. Seperti kamu, yang selalu suka mengajak semesta tertawa.
Aku dan kamu banyak berbeda Nyonya. Aku tak perlu mengulitinya satu per satu. Aku hanyalah satu yang menyapamu sebagai figuran. Tak punya peran penting apa pun. Oh, tidak! Aku adalah pemeran antagonis dalam kehidupanmu. Ya, antagonis yang akan memenuhi ceritamu dengan segala hal dungu yang akan membuatmu terus menggeleng-gelengkan kepalamu, kehabisan komentar. Kemudian dari jauh aku tertawa menyaksikan kamu yang hendak mengibarkan bendera putih. Tenang, aku tidak kejam. Aku hanya memiliki peran antagonis dalam kehidupanmu. Itu saja.
Bagaimana pun antagonisnya aku, semoga masih kamu berikan hak untuk duduk bersama denganmu. Bertemu mata. Kembali mendengarkanmu bercerita, apa saja. Mengangguk-angguk memahamkan setiap kata yang meluncur dari bibirmu. Tanpa kelu.
#KAMU
Kamu Istimewa
Kamu Istimewa di mataku
Wajahmu, Senyumanmu, tatapanmu selalu membuat mataku sibuk mengagumi
Kamu Istimewa di Hidungku
Baumu ynag khas bikin kangen :(
Kamu Istimewa di Telingaku
Suaramu selalu menenangkan hatiku yang gundah dan selalu menceritakan semua
Kamu Istimewa di Mulutku
Tiap kali aku mengucap namamu rasa sayang ini pasti bertambah
Sentuhanmu Istimewa
Tiap kali tangan ini menyentuhmu tidak ada niat atau ke inginan untuk melepasnya
Kamu Istimewa di Pikiranku
Hanya kamu yang tidak hentinya aku pikirkan
Kamu Istimewa di Hatiku
Karena hanya kamu yang dapat mengisi kekosongan di hati ini dengan cintamu yang tulus dan tidak ada tempat lain yang cocok untuk manusia seperti kamu selain di hatiku
Kamu Istimewa di Hidupku
Karena tidak ada orang lain yang bisa mengubah hidupku ini seseindah yang kamu ciptakan di hidupku
Kamu Istimewa Buatku
karena kamu telah mengajari aku semua tentang cinta
bagaimana rasanya mencintai dan dicintai
bagaimana cara menunjukannya
dan karena kamu adalah alasan pertama aku menulis puisi ini.
puisi cinta pertama.
Sampaikan salamku kepada hatimu, agar tetap terjaga dari kecewa yang tak pernah aku sengaja.Sampaikan salamku kepada sehatmu, agar tetap terjaga tak meluruhkan tawa-tawa yang selalu aku suka.
Oh iya, jika kemudian surat ini benar-benar terbaca olehmu, nyonya, aku tak melarangmu memberikan balasannya. Namun, dengan caramu. Aku ingin tak ada jejak pada lembar ini. Aku hanya ingin, surat ini menjadi kejutan untukmu. Sebab itu pula, jika aku menerima balasan, aku ingin mendapatinya sebagai kejutan.
Terima kasih, nyonya atas segala waktumu. Atas segala indera dan rasa yang kamu relakan untuk sekejap menikmati serangkai aksara dalam suratku. Semoga bisa menjadi seindah-indah kenangan yang mungkin hanya bisa aku sematkan dengan cara seperti ini. Selamat menyemai mimpi kembali, Nyonya
Gileee.. Makin canggih aja bahasa lu.. Kebanyakan baca bukunya gibran si..
BalasHapusBanyak makna yg tersirat di dalamnya.. Gue harap orang yg lu tuju tau hal ini..
Semangat ya bray...
Good luck ya buat blognya..