Selasa, 08 Juli 2014

Puisiku

Aku adalah pagi.
Kamu seperti puisi yang menjelma embun.
Yang menyisakan basah pada jantung-jantung daun.
Kamu adalah pelukan nyanyian-nyanyian burung,
yang lambat laun hilang diterpa hujan.
Matamu serupa jarum.
Aku bosan menjadi puisi yang kautenun.
Kamu serupa matahari,
yang curi-curi pandang pada bulan,
sesaat setelah dikumandangkan adzan Shubuh setiap akhir pekan.
yang memilih tetap tinggal dalam kesombongan awan-awan.
Kamulah harapan dalam setiap wajah yang memandang.
Aku adalah malam.
Kamu bulan yang membisikkan puisi pada bintang.
Aku cemburu.
Aku sebuah cangkir.
Kamu kopi yang selalu memeluk seluruh tubuhku setiap pagi.
Kamu adalah matahari.
Aku embun,
yang diam-diam ingin merasakan hangat kasihmu tiap pagi.
Aku matahari,
kamu bulan.
Berada di tempat yang sama tapi tak saling sapa.
Selalu berpapasan tapi tak pernah bersentuhan.
Kita adalah sedih yang bermuara di ujung yang sama: air mata.
Lalu kita terpisah dengan bahagia yang sama pula: hati yang berbeda.
Kita adalah sepasang sayap yang terpisah jarak di punggung malaikat.
Diam-diam saling sentuh saat pekat.
Kita hebat.
Itu baru yang sepotong, masih ada sepuluh lagi yang kayak gini.
*okay, itu kata-kata di iklan cokelat, maaf*
Tengoklah sisa basah pada kaca jendela kamarmu.
Padanya, telah kuselipkan doa agar kamu senantiasa bahagia.
Hujan, barangkali pertanda awan rindu dengan tanah.
Biarkan mereka saling sentuh.
Agar mereka tak lagi cemburu pada kita.
Gerimis itu,
kecup yang kau titipkan pada embun saat malam lupa menyatukan kita.
Senja membuatku tenang.
Malam membawaku terbang.
Namun, hanya kepadamu aku kembali pulang.
Kita pernah kehilangan kesempatan.
Itulah sebab mengapa kini kita diperbudak harapan.
Ada sekat di antara senyummu.
Mungkin kau menahan diri,
atau barangkali tersirat pesan bahwa kau akan pergi?
Setiap malam.
Selalu ada aku, kamu, dan mimpi yang belum terwujud: Kita.
Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti.
Aku yang keliru atau hatimu yang ambigu.
Aku hanya belajar memahami bahwa mencintaimu bukanlah kesalahan.
Juga belajar menerima kehilangan tanpa harus ada kesedihan.
Aku lupa cara benar untuk jatuh cinta.
Sehingga aku begitu saja jatuh kepada kamu.
Andai masa lalu kamu bisa terima aku.
Mungkin kita tak akan sejauh sekarang.
Ia tak pernah memaksamu tinggal.
Hanya saja, kamu yang memilih tinggal: di hatinya—yang telah terisi
orang lain penggantimu.
Tuhan, sembuhkanlah hatinya.
Yang tengah terluka sekian lama.
Agar ia mampu tersenyum padaku, sesaat saja.
Tuhan, lindungilah hatinya.
Hati yang akan menempatkan aku di sana.
Untuk selamanya.
Kehilanganmu.
Entah aku harus bersedih atau bahagia.
Saat melihat kau menemukan orang yang kau cinta.
Kutemukan sisa kecupmu dalam pekat.
Entah mengapa kau begitu hebat.
Ah, sial! Aku datang padamu saat terlambat.

Tak Apa

Tak denganmu itu tak apa.
Aku tetap tak sendirian di sini.
Aku ditemani sepuluh jari tanganku.

Tak bersamamu itu tak apa.
Sekalipun bukan aku untuk hidupmu,
tetap tetangmu dalam karyaku.

Tak dicintaimu tak apa.
Meskipun bukan aku dalam hatimu,
semangatku tetap senyummu.
Ada atau tanpa aku,
kau tetap keindahan yang nyata
bagiku dan banyak mata.

Akan tiba saatnya
aku tidak mencitaimu lagi.
Tetapi, sepanjang aku hidup, kaulah yang kuhirup.

Minggu, 11 Mei 2014

Siapa?

Aku bukan siapa-siapa yang harus kau cari ketika aku menghilang dari pandanganmu.
Aku bukan siapa-siapa yang harus kau khawatirkan ketika kau tak mendengar kabarku.
Aku bukan siapa-siapa yang harus kau rindukan ketika aku jauh darimu.
Aku bukan siapa-siapa yang harus kau sebut dalam setiap doamu.
Aku bukan siapa-siapa yang harus kamu cintai setiap hari.
Aku bukan siapa-siapa yang harus mengisi hati dan pikiranmu.
Ya, aku bukan siapa-siapa untukmu. Tapi kamu (hampir) menjadi segalanya untukku.

Nyatanya.

Nyatanya, adamu mampu membuat bibirku melengkungkan senyum lagi.
Nyatanya, adamu mampu membuat mataku tidak memancarkan kesedihan lagi.
Nyatanya, adamu mampu membuat telingaku mendengar kata-kata manis lagi.
Nyatanya, adamu mampu membuat hidungku menghirup aroma-aroma kebahagiaan lagi.
Nyatanya, adamu mampu membuat dadaku terasa sesak dengan rindu-rindu yang meluap lagi.
Nyatanya, adamu mampu membuat seluruh inderaku merasakan perasaan dicintai lagi.

Nyatanya, adamu adalah asaku yang dinyatakan keberadaannya oleh Tuhan.

Sabtu, 08 Maret 2014

Dear Stalker

Dear Stalker,

Sudah dapat informasi apa aja hari ini dari akun twitter dia?

Apa? Sedih karena dia ngga ngetwit apapun soal kamu?

Kamu sih...udah tau dia ngga ada perasaan apa-apa sama kamu,kok ngeyel?

Makin sedih ya karena ternyata dia lagi deket sama yang lain?

Udah,relain aja . Percaya aja kalau jodoh tak lari kemana

Apa? Ngga bisa lupain dia? Coba dulu cek tetangga kamu,siapa tau lebih cakep

Yakin ngga bisa jatuh cinta sama yang lain? Drama ih!

Ya udah , apapun keputusan kamu,mau lupain dia atau keep stalking

Mudah-mudahan kamu tau apa yang terbaik buat kamu ya

Jangan keasyikan stalking sampe ngga sadar ada yang sayang kamu didunia nyata

Iya,ada yang sayang sama kamu didunia nyata , Aku

Aku sayang kamu

Sepasang Malaikatku



Untukmu, Ayah dan Ibu.

Rasa-rasanya bukan suatu hal yg berlebihan jika surat untukmu ini kuberi judul demikian. Ayah, Ibu, kalian malaikatku. Malaikat yg beberapa saat sebelum aku menulis surat ini kulihat telah terlelap di kamar. Kalian pasti lelah setelah seharian memperjuangkan kebahagiaan kami, anak-anakmu, untuk hari ini dan masa yg akan datang.
Tidurlah Ayah, tidurlah Ibu. Semoga lelahmu lekas menguap bersama malam, lalu mengembun di dedaunan esok hari.

Kira-kira, apa kata yg pantas kusematkan kepadamu yg telah menjadi perantara hadirnya aku di dunia ini sekaligus pembimbing hidupku, jika bukan malaikat?
Siapa lagi yg bisa menerbangkanku ke depan gerbang pintu surga dan membukakannya untukku, jika bukan malaikat sepertimu?
Bahkan aku yakin, malaikat pun pasti akan merasa tak pantas menyandang nama malaikat jika tau aku menyebut orang-orang hebat sepertimu sebagai malaikatku.

Ayah. Ibu.
Ini anakmu, yg sedang ingin menantikan cintanya kepadamu.
Ya, aku tau kalian pasti tak akan mengetahui apa yg kulakukan ini. Biarlah. Aku hanya ingin menceritakan kebanggaanku atas kalian kepada para penghuni dunia maya yg teramat luas ini, yg bahkan belum kuketahui batasnya. Biar mereka tau, bahwa aku punya Ayah dan Ibu sehebat kalian.

Ayahku sayang.
Yg berkumis tapi selalu tersungging senyum ramah. Yg rambutnya mulai ditumbuhi banyak uban. Yg garis-garis keriput di wajahnya mulai nampak. Yg galak tapi juga humoris.
Kau ikhlas melelahkan ragamu yg mulai merenta, pun melelehkan keringat di sekujur tubuhmu. Semua itu kau lakukan hanya demi menebus senyum bahagia kedua anakmu.
Kau didik kami dengan keras namun penuh kasih sayang. Ucapan terima kasih berkali-kali pun tak akan cukup untuk membalas semua itu. Sungguh, aku mengidolakanmu.

Ayah, suaramu pertegas pejuanganku. Begitu kata Lyla dalam lagunya. Dan aku termasuk salah satu orang yg mengamininya. Kau tak pernah lelah memberiku asupan nasehat dan semangat dengan suara berat yg khas darimu. Mengobarkan semangat, mengaburkan ragu dan jenuhku. Terlebih setiap kali kau mengantarku yg hendak menuntut ilmu di perantauan. Tatapan matamu selalu meneguhkanku, meski aku tau sebenarnya kau juga berat melepasku.
Sungguh, ingin sekali aku menjadi sepertimu.

Ibuku tercinta.
Yg telah mengajarkanku memakai baju, memasang tali sepatu, menyisir rambut, dan segala hal yg sebelumnya aku tak bisa. Yg selalu bangun pagi menyiapkan sarapan untukku. Yg setia merawatku saat sehat maupun sakit. Yg dengan bangga bercerita tentang prestasi dan kenakalanku kepada teman dan tetangga. Yg matanya selalu berkaca-kaca setiap melepasku di sekolah, mencemaskanku, dan menungguku pulang dalam bait-bait doa.
Aku sayang Ibu.

Jauh di relung kalbuku sebenarnya aku menyimpan kerinduan yg mendalam akan lakumu memanjakanku. Suapanmu, ciumanmu, belaianmu, timanganmu, pelukanmu. Aku rindu menjadi kanak-kanak. Rela aku menanggalkan remajaku sejenak.
Hanya saja aku malu. Sebab seiring bertambahnya usia kita, diam-diam sang waktu telah lancang mengikis kedekatan kita. Tapi aku yakin, keakraban itu bukan sirna, hanya tak kasat mata.

Ayah. Ibu.
Anakmu yg telah 18 tahun kau ajarkan makna kehidupan ini ingin sekali meminta maaf. Maaf jika sampai saat ini aku masih belum mampu menjadi anak seperti yg kalian harap. Maaf jika sampai saat ini aku masih belum mampu membahagiakanmu dan membuatmu bangga, sebangga aku memiliki malaikat seperti kalian.

Terakhir. Hanya sebait doa untuk kalian malaikatku, yg lirih kulafalkan sembari menuliskan surat ini dan setiap harinya kuulang berkali-kali.
Ayah. Ibu. Terima kasih. Beri aku kepercayaan, akan kuperjuangkan bahagiamu, akan kupertanggungjawabkan kebangganmu padaku.

Tau Kenapa Kamu Istimewa?

Karena aku selalu bisa merindukanmu dengan banyak cara SEDERHANA.
Karena aku tak perlu susah mengartikan rindu itu dari A sampai Z. Rindu itu kamu.
Karena aku suka berlama-lama saat mendengar ceritamu, sama seperti saat aku sedang membaca buku.
Karena rinduku buatmu ternyata tanpa batas waktu.
Karena merindukanmu adalah rahasia hati yang paling sederhana dan itulah rahasia hatiku.
Karena merindumu tak pernah jemu dilakukan benak.
Karena aku selalu memikirkanmu setiap kali bangun di pagi hari. Memikirkanmu itu artinya aku merindukanmu.
Aku selalu menyiapkan banyak cara untuk menyapamu, termasuk menyebutkan namamu dengan lengkap. Dan itu artinya rindu.
Lalu apa yang bisa aku lakukan buatmu agar bisa merindukanku?