Aku adalah pagi.
Kamu seperti puisi yang menjelma
embun.
Yang menyisakan basah pada
jantung-jantung daun.
Kamu adalah pelukan nyanyian-nyanyian
burung,
yang lambat laun hilang diterpa
hujan.
Matamu serupa jarum.
Aku bosan menjadi puisi yang
kautenun.
Kamu serupa matahari,
yang curi-curi pandang pada
bulan,
sesaat setelah dikumandangkan
adzan Shubuh setiap akhir pekan.
yang memilih tetap tinggal dalam
kesombongan awan-awan.
Kamulah harapan dalam setiap
wajah yang memandang.
Aku adalah malam.
Kamu bulan yang membisikkan puisi
pada bintang.
Aku cemburu.
Aku sebuah cangkir.
Kamu kopi yang selalu memeluk
seluruh tubuhku setiap pagi.
Kamu adalah matahari.
Aku embun,
yang diam-diam ingin merasakan
hangat kasihmu tiap pagi.
Aku matahari,
kamu bulan.
Berada di tempat yang sama tapi
tak saling sapa.
Selalu berpapasan tapi tak pernah
bersentuhan.
Kita adalah sedih yang bermuara
di ujung yang sama: air mata.
Lalu kita terpisah dengan bahagia
yang sama pula: hati yang berbeda.
Kita adalah sepasang sayap yang
terpisah jarak di punggung malaikat.
Diam-diam saling sentuh saat
pekat.
Kita hebat.
Itu baru yang sepotong, masih ada
sepuluh lagi yang kayak gini.
*okay, itu kata-kata di iklan
cokelat, maaf*
Tengoklah sisa basah pada kaca
jendela kamarmu.
Padanya, telah kuselipkan doa
agar kamu senantiasa bahagia.
Hujan, barangkali pertanda awan
rindu dengan tanah.
Biarkan mereka saling sentuh.
Agar mereka tak lagi cemburu pada
kita.
Gerimis itu,
kecup yang kau titipkan pada
embun saat malam lupa menyatukan kita.
Senja membuatku tenang.
Malam membawaku terbang.
Namun, hanya kepadamu aku kembali
pulang.
Kita pernah kehilangan
kesempatan.
Itulah sebab mengapa kini kita
diperbudak harapan.
Ada sekat di antara senyummu.
Mungkin kau menahan diri,
atau barangkali tersirat pesan
bahwa kau akan pergi?
Setiap malam.
Selalu ada aku, kamu, dan mimpi
yang belum terwujud: Kita.
Sampai sekarang, aku masih tidak
mengerti.
Aku yang keliru atau hatimu yang
ambigu.
Aku hanya belajar memahami bahwa
mencintaimu bukanlah kesalahan.
Juga belajar menerima kehilangan
tanpa harus ada kesedihan.
Aku lupa cara benar untuk jatuh
cinta.
Sehingga aku begitu saja jatuh
kepada kamu.
Andai masa lalu kamu bisa terima
aku.
Mungkin kita tak akan sejauh
sekarang.
Ia tak pernah memaksamu tinggal.
Hanya saja, kamu yang memilih
tinggal: di hatinya—yang telah terisi
orang lain penggantimu.
Tuhan, sembuhkanlah hatinya.
Yang tengah terluka sekian lama.
Agar ia mampu tersenyum padaku,
sesaat saja.
Tuhan, lindungilah hatinya.
Hati yang akan menempatkan aku di
sana.
Untuk selamanya.
Kehilanganmu.
Entah aku harus bersedih atau
bahagia.
Saat melihat kau menemukan orang
yang kau cinta.
Kutemukan sisa kecupmu dalam
pekat.
Entah mengapa kau begitu hebat.
Ah, sial! Aku datang padamu saat
terlambat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar