Selamat, Senja.
Senja,
kamukah di sana? Masih saja kamu datang dengan semburat kemerahan.
Kenapa malu? Kemarilah tak apa, aku sudah ikhlas jika kamu pergi
meninggalkan lagi. Sungguh.
Senja,
saat itu aku enggan membuka mata. Tidak menghiraukan malam.
Menghentikan detik, terpaku pada saat kau menghilang. Yang aku tahu dari
mereka, malam itu gelap. Hanya gelap. Aku terlalu takut untuk membuka.
Iya, saat itu.
Sampai
suatu ketika, aku mencoba memberanikan diri membuka mata. Dan apa yang
aku dapat, Senja? Mereka salah. Pun aku. Di luar sana seiring datangnya
malam, satu per satu bintang bermunculan. Indah. Indah sekali, Senja.
Dan ternyata banyak keindahan di luar sana selain dirimu.
Aku
tidak sedang mengutukmu, pun mengeluhkanmu, Senja. Bagaimana pun, jika
kamu tak hadir, malam pun juga tidak akan tampak. Terlebih, kalian
adalah dua keindahan yang berbeda. Walaupun dengan kesementaraanmu;
terima kasih, Senja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar